Untuk menangkis isu-isu yang menyerang pasangan capres-cawapres Boediono, tim sukses menyiapkan tim berjuluk 'bayonet'. Tim ini diisi orang-orang yang berani bicara lantang seperti Rizal Mallarangeng dan Ruhut Sitompul. Hal ini diakui sendiri oleh Ruhut, yang merupakan anggota tim sukses SBY-Boediono.
"Saya dengan Rizal itu adalah pasukan sangkur SBY-Boediono atau tim bayonet untuk meng-counter agar isu-isu miring tentang SBY-Boediono tidak dianggap benar oleh publik. Kalau tim yang santunnya kan ada Pak Anas Urbaningrum, Pak Marzuki Alie," terang Ruhut kepada INILAH.COM.
Bahkan terkait kasus Ruhut yang menyinggung etnis Arab, Ketua DPP Partai Demokrat itu mengaku tidak mendapat teguran SBY, sebagai Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat. Hingga saat ini pun Ruhut mengaku belum menerima sanksi dari SBY atau timnya.
"Saya itu masih di tim sukses SBY-Boediono. Pak SBY itu tidak pernah menegur saya, Pak Hadi juga bukan menegur. Jadi saya santai saja karena dengan kejadian ini saya jadi orang yang sangat diperhitungkan di antara tiga pasangan capres-cawapres ini," tuturnya.
Karena itulah ketika Ruhut terancam akan dipolisikan Forum Keturunan Arab Indonesia (Fokari), dia malah menantang balik. Padahal Demokrat dan PKS meminta tolong agar ucapan si Poltak dimaafkan saja, sebab Ruhut khilaf dan terpancing dengan suasana politik menjelang Pilpres yang semakin panas.
Ruhut yang memang terkenal lantang mengingatkan, ucapan SARA yang keluar dari mulutnya adalah pembelaan diri. Saat debat tim sukses, Ruhut terpancing dengan perkataan tim sukses JK Win, Fuad Bawazier, yang menyuruh Boediono melakukan tobat nasuha karena dinilai menganut ekonomi neoliberal. Ruhut pun meminta Forkabi untuk menegur Fuad yang memancingnya.
Selain itu, Ruhut menegaskan bahwa siapapun yang melakukan black campaign kepada SBY dan Boediono, akan disikatnya. Menurutnya, SBY-Boediono merupakan tokoh yang sangat santun rendah hati dan semua orang telah mengakuinya.
Meski demi membela SBY, namun tindakan Ruhut dinilai analis politik dari UI Nur Iman Subono tidak mengindahkan etika politik. Seluruh tim sukses dari ketiga kandidat Pilpres 2009 harus menghindari rasis, etnis dan agama.
Kemudian juga harus menghindari hal-hal yang berkaitan dengan personal. Personal di sini bukan yang memiliki dampak publik seperti bicara track record seseorang, sebab justru hal tersebut harus diungkap.
"Yang bisa dilakukan adalah dalam berkampanye hendaknya berhati-hati. Bila seseorang telah melanggar etika politik maka permintaan maaf secara publik dan social punishment itu harus berjalan dan menjadi harga yang harus dibayar," ujar Iman mengingatkan.
Ucapan Ruhut kini harus dibayar Demokrat. Warga keturunan Arab mengancam tidak akan memilih SBY-Boediono. Dan ini tentu saja menguntungkan 2 pasangan Pilpres lainnya, yakni JK-Wiranto dan Mega-Prabowo.
inilah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar